Kisah Sedih di Hari Minggu (Indra dan Hasan)



Hari minggu, Hasan dan Indra mengisi waktu dengan memancing. Tapi kasian udah dua jam mereka ga dapet-dapet.

Hasan : Yaelaahh broh!! Ikan-ikannya pada belagu, ga ada yang mau ngendus umpan gue!

Indra : Sabar San, anggap aja kita ga lagi mancing, tapi lagi mandiin cacing!

Hasan : Ah terserah apa kata lo dah..

Indra : Jiaahh...

Hasan : Oia, ndra! Ketimbang bete gue punya satu cerita lucu dan seru banget ini. Lo mau dengar?

Indra : Mau banget! Gratis kan?

Hasan : Tapi ntar pas gue cerita, lo harus ikutin kata- kata belakangnya. Bisa kan?

Indra : Okeh! Bisa bisa..

Hasanpun mulai bercerita.

Hasan : Pada suatu hari gue pergi berburu.

Indra : Berburu.

Hasan : Gue masuk ke dalam hutan.

Indra : Hutan.

Hasan : Tiba-tiba perut gue mules.

Indra : Mules.

Hasan : Gue langsung lari ke semak-semak..

Indra : Semak-semak.

Hasan : Di situ gue boker.

Indra : Boker. :/

Hasan : Abis itu besoknya gue berburu lagi.

Indra : Lagi.

Hasan : Iseng-iseng gue ngecek semak-semak tempat gue boker yang kemarin.

Indra : Kemarin.

Hasan : Sialan! Tai gue udah ga ada.

Indra : Ada.

Hasan : Gue heran dan dalam hati bertany-tanya.

Indra : Tanya.

Hasan : Siapa yang makan tai gue?

Indra : Gue.



Just For Fun.. Thanks For Reading ^_^

[Salam Kamfret]

Sisi sisi Hati




Aku yang menurutmu perhatian, menyenangkan, punya banyak waktu, tapi kalau di hatimu bukan siapa-siapa apa hebatnya?

Dan dia, meski menurutmu kurang perhatian, membosankan, hampir tak punya waktu, tapi kalau di hatimu adalah segala-galanya, berarti dialah juaranya.

Jika kamu mobil maka aku ini tak ubahnya bengkel. Kamu menemuiku hanya ketika ingin memperbaiki kondisimu yang jengkel. Di saat kecewa kamu kepadaku membawa urai air mata. Dan entah kenapa aku justru bangga, kemudian berusaha sebisaku sehinga matamu kembali berbinar, sampai senyummu kupastikan kembali melebar.

Sementara dia?! Dia seperti garasi, tempatmu kembali mengistirahatkan diri dari malam hingga pagi. Kepadaku, seberapapun lamanya kamu mampir, aku sadar itu hanya parkir, bukan sebuah pemberhentian terakhir.

Untuk bibirmu, aku berupaya segala cara agar selalu tersungging senyuman di sana, iya sebatas itu tugasku. Sementara untuk mengecupnya, aku tak punya hak apa-apa, itu tugas dia.

Iya, selalu begitu. Kamu datang kepadaku membawa kecewa karenanya, lalu kembali kepadanya membawa bahagia karenaku. Selalu begitu, terus terulang, sudah tak terbilang.

Kamu bodoh, terus bertahan dengan dia yang tak perhatian. Masih memilih dia yang katamu membosankan! Atau...? Atau sebenarnya aku sendirilah yang bodoh, terus menyambutmu meski ini tidak ada bedanya dengan pelarian?!

Aku bingung aku ini mengalah, atau sebenarnya memang kalah? Tapi terserahlah! Memikirkannya saja aku sudah sangat lelah. Kujalani saja meskipun mungkin ini salah.

Jujur setiap melihatnya memandangimu yang cantik, dalam diam yang geram aku kerap berdoa licik, semoga dia lebih sering memperlakukanmu tidak baik. Agar kamu lebih sering kecewa. Agar aku dan kamu lebih sering bersama.


[Salam Kamfret]

Kisah Perjuangan Cinta



Dulu aku hanya sendiri, sewaktu memperjuangkanmu untuk kumiliki. Bermacam cara kutempuh agar kamu tau betapa ingginnya kamu kurengkuh. Berharap kamu mau walau sekedar melirikku, lalu melihatku sebagai lelaki yang tepat memilikimu.

Dan ketika kamu berhasil kumiliki, aku sempat merasakan sebuah kemenangan, meski itu baru kemenangan kecil, yang demi mempertahankannya juga perlu perjuangan. Iya, berjuang meyakinkan mereka-mereka yang tidak setuju, melawan penjuang-pejuang lain yang coba mengganggu, berjuang mengatasi egoku dan memastikan kesetiaanmu.

Tapi aku bahagia. Setelah ada kamu, aku tak lagi berjuang sendiri. Kita berjuang bersama-sama. Kita pernah yakin suatu saat kita akan saling memiliki. Kita pernah percaya bahwa, kemenangan yang diperoleh dengan perjuangan berat, dengan melewati rintangan-rintangan hebat, nantinya akan lebih nikmat dibanding kemenangan dengan biasa-biasa saja. Lalu kita terus berjuang, mengupayakan kemenangan itu menjadi sempurna dan indah, hingga siap dirayakan dalam sebuah resepsi yang meriah.

Tapi... Tapi ujung setiap perjuangan sejatinya hanya ada dua: menang atau kalah. Terlepas kekalahan itu karena aku mengalah, atau entah karena aku menyerah, hasilnya sama; aku kalah! Nyatanya aku hanyalah juara sementara. Tak lebih dari seorang pecundang sinema India. Menang di awal untuk kemudian kalah di akhir cerita. Aku sempat marah, tapi kemudian hanya bisa pasrah, merelakan piala yang hanya sempat kugenggam itu kini dikecup orang lain.

Pada akhirnya aku sendiri lagi, walau ternyata perjuangan belum berhenti. Iya, aku masih harus berjuang kembali, melupakanmu yang terlanjur kuat tersimpan di memori hati. Sambil pura-pura menghibur diri, cinta memang tak harus memiliki.


[Salam Kamfret]

Wikipedia

Search results

Penting !!

Mohon Maaf, Blog ini sedang dalam masa perbaikkan !!!

Popular Posts

Follow Me